Sabtu, 28 Desember 2013
Lagi.. Tentang Kita
Ini bukan yang pertama, duduk sendirian dan
memerhatikan beberapa tulisan berlalu-lalang.
Setiap abjad yang tersusun dalam kata terangkai
menjadi kalimat, dan entah mengapa sosokmu
selalu berada di sana, berdiam dalam tulisan
yang sebenarnya enggan aku baca dan
kudefinisikan lagi. Ini bukan yang baru bagiku,
duduk berjam-jam tanpa merasakan hangatnya
perhatianmu melalui pesan singkat. Kekosongan
dan kehampaan sudah berganti-ganti wajah
sejak tadi, namun aku tetap menunduk, mencoba
tak memedulikan keadaan. Karena jika aku
terlalu terbawa emosi, aku bisa mati iseng
sendiri.
Tentu saja, kamu tak merasakan apa yang
kurasakan, juga tak memiliki rindu yang
tersimpan rapat-rapat. Aku sengaja
menyembunyikan perasaan itu, agar kita tak lagi
saling menganggu. Bukankah dengan berjauhan
seperti ini, semua terasa jadi lebih berarti?
Seakan-akan aku tak pernah peduli, seakan-
akan aku tak mau tahu, seakan-akan aku tak
miliki rasa perhatian. Bagiku, sudah cukup
seperti ini, cukup aku dan kamu, tanpa kita.
Minggu, 17 November 2013
Menjelaskan Kesepian
Waktu merangkak dengan cepat, merangkak
yang kita kira lambat ternyata bergerak seakan
tanpa jerat. Semua telah berubah, begitu juga
kamu, begitu juga aku, begitu juga kita. Bahkan
waktu telah menghapus KITA yang pernah
merasa tak berbeda, waktu telah
memutarbalikkan segalanya yang sempat indah.
Tak ada yang tahu, kapan perpisahan menjadi
penyebab kegelisahan. Aku menjalani, kamu
meyakini, namun pada akhirnya waktu juga yang
akan menentukan akhir cerita ini. Kamu tak
punya hak untuk menebak, begitu juga aku.
Kaubilang, tak ada yang terlalu berbeda, tak ada
yang terasa begitu menyakitkan. Tapi, siapa
yang tahu perasaan seseorang yang terdalam?
Mulut bisa berkata, tapi hati sulit untuk
berdusta. Kalau boleh aku jujur, semua terasa
asing dan berbeda. Ketika hari-hari yang
kulewati seperti tebakan yang jawabannya sudah
kuketahui. Tak ada lagi kejutan, tak banyak hal-
hal penuh misteri yang membuatku penasaran.
Aku seperti bisa meramalkan semuanya, hari-
hariku terasa hambar karena aku bisa membaca
menit-menit di depan waktu yang sedang
kujalani. Aku bisa dengan mudah mengerti
peristiwa, tanpa pernah punya secuil rasa untuk
menyelami sebab dan akibatnya. Aku paham
dengan detik yang begitu mudah kuprediksi,
semua terlalu mudah terbaca, tak ada yang
menarik. Kepastian membuatku bungkam,
sehingga aku kehilangan rasa untuk mencari dan
terus mencari. Itulah sebabnya setelah tak ada
lagi kamu di sini. Kosong.
Bagaimana aku bisa menjelaskan banyak hal
yang mungkin saja tidak kamu rasakan? Aku
berada di lorong-lorong gelap dan menunggu
rengkuhan jemarimu mempertemukan aku pada
cahaya terang. Namun, bahkan tanganmu saja
enggan menyentuh setiap celah dalam jemariku,
dan penyelamatan yang kurindukan hanyalah
omong kosong yang memekakkan telinga.
Harapanku terlalu jauh untuk mengubah
semuanya seperti dulu, saat waktu yang kita
jalani adalah kebahagiaan kita seutuhnya, saat
masih ada kamu dalam barisan hariku.
Perpisahan seperti mendorongku pada realita
yang selama ini kutakutkan. Kehilangan
mempersatukan aku pada air mata yang
seringkali jatuh tanpa sebab. Aku sulit
memahami kenyataan bahwa kamu tak lagi ada
dalam semestaku, aku semakin tak bisa
menerima keadaan yang semakin
menyudutkanku. Semua kenangan bergantian
melewati otakku, bagai film yang tak pernah
mau berhenti tayang. Dan, aku baru sadar,
ternyata kita dulu begitu manis, begitu
mengagumkan, begitu sulit untuk dilupakan.
Ada yang kurang. Ada yang tak lengkap. Aku
terbiasa pada kehadiranmu, dan ketika menjalani
setiap detik tanpamu, yang kurasa hanya
bayang-bayang yang saling berkejaran, saling
menebar rasa ketakutan. Ada rasa takut tanpa
sebab yang memaksaku untuk terus memikirkan
kamu. Ada kekuatan yang sulit kujelaskan yang
membawa pikiranku selalu mengkhawatirkanmu.
Salahkah jika aku masih inginkan penyatuaan?
Salahkah jika aku benci perpisahan?
Tak banyak yang ingin kujelaskan, saat kesepian
menghadangku setiap malam. Biasanya, malam-
malam begini ada suaramu, mengantarku
sampai gerbang mimpi dan membiarkanku
sendiri melewati setiap rahasia hati. Kali ini, aku
sendiri, memikirkan kamu tanpa henti. Jika kita
masih saling menghakimi dan saling menyalahi,
apakah mungkin yang telah putus akan
tersambung dengan pasti? Aku tak tahu dan tak
mau memikirkan keadaan yang tak mungkin
kembali. Semua sudah jelas, namun entah
mengapa aku masih sulit memahami, kenapa
harus kita yang alami ini? Tak adakah yang
lain? Aku dan kamu bukan orang jahat, namun
mengapa kita terus saja disakiti. Bukankah di
luar sana masih banyak orang jahat?
Jangan tanyakan padaku, jika senyumku tak lagi
sama seperti dulu. Jangan salahkah aku, jika
pelangi dalam duniaku hanya tersedia warna
hitam dan putih. Setelah kamu buang
kisah cinta milik kita, semuanya jadi berbeda. Aku
bahkan tak mengenal diriku sendiri, karena
separuh yang ada dalam diriku sudah berada
dalammu... yang pergi, dan entah kapan
kembali.
Aku merindukanmu, juga kita yang dulu.
yang kita kira lambat ternyata bergerak seakan
tanpa jerat. Semua telah berubah, begitu juga
kamu, begitu juga aku, begitu juga kita. Bahkan
waktu telah menghapus KITA yang pernah
merasa tak berbeda, waktu telah
memutarbalikkan segalanya yang sempat indah.
Tak ada yang tahu, kapan perpisahan menjadi
penyebab kegelisahan. Aku menjalani, kamu
meyakini, namun pada akhirnya waktu juga yang
akan menentukan akhir cerita ini. Kamu tak
punya hak untuk menebak, begitu juga aku.
Kaubilang, tak ada yang terlalu berbeda, tak ada
yang terasa begitu menyakitkan. Tapi, siapa
yang tahu perasaan seseorang yang terdalam?
Mulut bisa berkata, tapi hati sulit untuk
berdusta. Kalau boleh aku jujur, semua terasa
asing dan berbeda. Ketika hari-hari yang
kulewati seperti tebakan yang jawabannya sudah
kuketahui. Tak ada lagi kejutan, tak banyak hal-
hal penuh misteri yang membuatku penasaran.
Aku seperti bisa meramalkan semuanya, hari-
hariku terasa hambar karena aku bisa membaca
menit-menit di depan waktu yang sedang
kujalani. Aku bisa dengan mudah mengerti
peristiwa, tanpa pernah punya secuil rasa untuk
menyelami sebab dan akibatnya. Aku paham
dengan detik yang begitu mudah kuprediksi,
semua terlalu mudah terbaca, tak ada yang
menarik. Kepastian membuatku bungkam,
sehingga aku kehilangan rasa untuk mencari dan
terus mencari. Itulah sebabnya setelah tak ada
lagi kamu di sini. Kosong.
Bagaimana aku bisa menjelaskan banyak hal
yang mungkin saja tidak kamu rasakan? Aku
berada di lorong-lorong gelap dan menunggu
rengkuhan jemarimu mempertemukan aku pada
cahaya terang. Namun, bahkan tanganmu saja
enggan menyentuh setiap celah dalam jemariku,
dan penyelamatan yang kurindukan hanyalah
omong kosong yang memekakkan telinga.
Harapanku terlalu jauh untuk mengubah
semuanya seperti dulu, saat waktu yang kita
jalani adalah kebahagiaan kita seutuhnya, saat
masih ada kamu dalam barisan hariku.
Perpisahan seperti mendorongku pada realita
yang selama ini kutakutkan. Kehilangan
mempersatukan aku pada air mata yang
seringkali jatuh tanpa sebab. Aku sulit
memahami kenyataan bahwa kamu tak lagi ada
dalam semestaku, aku semakin tak bisa
menerima keadaan yang semakin
menyudutkanku. Semua kenangan bergantian
melewati otakku, bagai film yang tak pernah
mau berhenti tayang. Dan, aku baru sadar,
ternyata kita dulu begitu manis, begitu
mengagumkan, begitu sulit untuk dilupakan.
Ada yang kurang. Ada yang tak lengkap. Aku
terbiasa pada kehadiranmu, dan ketika menjalani
setiap detik tanpamu, yang kurasa hanya
bayang-bayang yang saling berkejaran, saling
menebar rasa ketakutan. Ada rasa takut tanpa
sebab yang memaksaku untuk terus memikirkan
kamu. Ada kekuatan yang sulit kujelaskan yang
membawa pikiranku selalu mengkhawatirkanmu.
Salahkah jika aku masih inginkan penyatuaan?
Salahkah jika aku benci perpisahan?
Tak banyak yang ingin kujelaskan, saat kesepian
menghadangku setiap malam. Biasanya, malam-
malam begini ada suaramu, mengantarku
sampai gerbang mimpi dan membiarkanku
sendiri melewati setiap rahasia hati. Kali ini, aku
sendiri, memikirkan kamu tanpa henti. Jika kita
masih saling menghakimi dan saling menyalahi,
apakah mungkin yang telah putus akan
tersambung dengan pasti? Aku tak tahu dan tak
mau memikirkan keadaan yang tak mungkin
kembali. Semua sudah jelas, namun entah
mengapa aku masih sulit memahami, kenapa
harus kita yang alami ini? Tak adakah yang
lain? Aku dan kamu bukan orang jahat, namun
mengapa kita terus saja disakiti. Bukankah di
luar sana masih banyak orang jahat?
Jangan tanyakan padaku, jika senyumku tak lagi
sama seperti dulu. Jangan salahkah aku, jika
pelangi dalam duniaku hanya tersedia warna
hitam dan putih. Setelah kamu buang
kisah cinta milik kita, semuanya jadi berbeda. Aku
bahkan tak mengenal diriku sendiri, karena
separuh yang ada dalam diriku sudah berada
dalammu... yang pergi, dan entah kapan
kembali.
Aku merindukanmu, juga kita yang dulu.
Selasa, 08 Oktober 2013
Merindukanmu
Tanpamu aku lemah,
Tanpamu aku sakit,
Tanpamu aku menderita,
Tanpamu aku kesepian,
Tanpamu aku resah.
Kasih, sungguh aku tak mau berlarut-larut dalam kesedihan ini, tapi jika ku boleh jujur, aku sangat merindukan mu!
Aku rindu senyuman hangat mu, aku rindu tatapan mata mu, aku rindu caramu berbicara padaku, aku rindu caramu menunjukkan sayangmu padaku, aku sungguh merindukan kebersamaan KITA.
Kau tau kasih? Bukan hanya aku yang merindukan mu! Keluargaku juga rindu padamu!
Saat kau bilang padaku, kalau rasa cinta mu memudar dan menjadi mati rasa, Kau tau sayang? Hatiku sakit seperti diiris oleh pisau yang tajam, hatiku hancur berkeping-keping.
kau tak akan pernah bisa merasakannya, hanya Allah yang tau perasaan ku saat ini.
Kau ingin memutuskan hub. Ini, hubungan yg tlah kita bangun 2 tahun lebih lamanya, tapi aku menolaknya.
Bagaimana bisa pikiran itu ada pada dirimu sayang? Aku tak mengerti, aku tak percaya, tapi kutahu ini bukanlah mimpi.
Aku bukan ingin menjadi orang yang egois, tapi aku memang belum sanggup melepasmu, kehilangan mu.
Selama ini ku selalu bergantung padamu, kau dewa matahariku.
Aku terlalu lemah menerima kenyataan ini, aku tak sanggup.
Setiap hari aku memikirkanmu, tidurku tak lagi nyenyak, wajahku pucat, aku hanya bisa menangiss..
Aku ingin sekali bersandar dipundakmu. Mencurahkan semua keluh kesahku seperti dulu, tapi kau terlalu sibuk dengan urusanmu, hingga kini kau bukan lagi milikku.
Aku selalu berdoa kepada Allah SWT, supaya Ia dapat membuka pintu hatimu dan pikiranmu kembali seperti dulu.
Aku selalu menginginkan keajaiban datang, Keajaiban dimana kau datang dan menghapus air mata lukaku, tapi Allah SWT berkata lain, kau semakin jauh dari pandangan ku.
“ kau terlalu manis tuk dilupakan
Kau terlalu pahit tuk dikenang”
Ya Allah aku mencintainya, aku merindukannya,
Tanpamu aku sakit,
Tanpamu aku menderita,
Tanpamu aku kesepian,
Tanpamu aku resah.
Kasih, sungguh aku tak mau berlarut-larut dalam kesedihan ini, tapi jika ku boleh jujur, aku sangat merindukan mu!
Aku rindu senyuman hangat mu, aku rindu tatapan mata mu, aku rindu caramu berbicara padaku, aku rindu caramu menunjukkan sayangmu padaku, aku sungguh merindukan kebersamaan KITA.
Kau tau kasih? Bukan hanya aku yang merindukan mu! Keluargaku juga rindu padamu!
Saat kau bilang padaku, kalau rasa cinta mu memudar dan menjadi mati rasa, Kau tau sayang? Hatiku sakit seperti diiris oleh pisau yang tajam, hatiku hancur berkeping-keping.
kau tak akan pernah bisa merasakannya, hanya Allah yang tau perasaan ku saat ini.
Kau ingin memutuskan hub. Ini, hubungan yg tlah kita bangun 2 tahun lebih lamanya, tapi aku menolaknya.
Bagaimana bisa pikiran itu ada pada dirimu sayang? Aku tak mengerti, aku tak percaya, tapi kutahu ini bukanlah mimpi.
Aku bukan ingin menjadi orang yang egois, tapi aku memang belum sanggup melepasmu, kehilangan mu.
Selama ini ku selalu bergantung padamu, kau dewa matahariku.
Aku terlalu lemah menerima kenyataan ini, aku tak sanggup.
Setiap hari aku memikirkanmu, tidurku tak lagi nyenyak, wajahku pucat, aku hanya bisa menangiss..
Aku ingin sekali bersandar dipundakmu. Mencurahkan semua keluh kesahku seperti dulu, tapi kau terlalu sibuk dengan urusanmu, hingga kini kau bukan lagi milikku.
Aku selalu berdoa kepada Allah SWT, supaya Ia dapat membuka pintu hatimu dan pikiranmu kembali seperti dulu.
Aku selalu menginginkan keajaiban datang, Keajaiban dimana kau datang dan menghapus air mata lukaku, tapi Allah SWT berkata lain, kau semakin jauh dari pandangan ku.
“ kau terlalu manis tuk dilupakan
Kau terlalu pahit tuk dikenang”
Ya Allah aku mencintainya, aku merindukannya,
Kehilanganmuu
Aku yang bahkan belum siap, tapi kau tlah beranjak pergi meninggalkan ku.
Hitam pandanganku, darah seakan tak mau mengalir, sesak rasa dadaku.
Begitu mudahnya kau melupakan aku, melupakan semua tentang ku, begitu mudahnya kau mengusir ku dari hatimu.
Telah banyak kata ku ungkap percuma, namun kau tak kunjung peka dengan perasaan ini.
Kau, kau biarkan aku terpuruk menanggung kesedihan ini sendirian, tanpa sedikitpun uluran tangan darimu, berkali-kali ku coba bangkit, berkali-kali pula aku terjatuh. Aku tak mampu berdiri sendiri .
kau tau aku sakit, kau tau aku terluka, tapi kau pura-pura bodoh , kau pura-pura tak tahu, kau tertawa di atas penderitaan ku.
Orang yang selama ini ku anggap baik, dewa pelindungku, ternyata lebih JAHAT dari seorang PENJAHAT.
Aku hanya bisa memandang mu dari jauh, tanpa berani mendekatimu.
Aku takut dikecewakan lagi, Hatiku sakitt . . .
Aku patut membenci dirimu!! Tapi hatiku seakan menolaknya, hati ku tak ingin ingin membenci mu! Tapi kau JAHAT!
Jadi, saat hatimu tak lagi untukku, kau bisa seenaknya mencampakkan aku? Meninggalkan aku?
Cinta, apa salahku? Hingga kau buat aku tersiksa seperti ini? Apa salahku?
Apakah aku salah terlalu mencintaimu? Apakah cinta ini terlarang?
Kau minta aku tuk melupakan mu, bagaimana mungkin aku bisa melupakan mu? Semua tentang kita? Hah?
Aku seperti sedang bermimpi buruk, saat ku tau kau tak lagi bersamaku, kau tak lagi mengisi hari-hariku.
Apa lagi yang harus ku lakukan? Aku ingin mempertahankan hubungan ini, tapi kau ingin segera mengakhirinya.
Jika aku tak mempunyai iman yang kuat, mungkin ku sudah mengikuti bujuk rayu setan.
Tapi, aku harus menerima kenyataan pahit ini, aku harus kuat, Bahwa kau sudah tak menginginkan ku lagi, kau sudah tak mencintaiku lagiii!
Aku lemah, aku terlalu lemah, aku tak bisa menerima kenyataan ini! Aku hanya bisa menangiss, dan menangiss!
Perih hati ini, tapi kau tak akan bisa merasakan nya, karna hatimu telah terkunci rapat! Hatimu tak lagi tersentuh dengan keadaan ku!
Aku kehilangan dirimu . . .
Hitam pandanganku, darah seakan tak mau mengalir, sesak rasa dadaku.
Begitu mudahnya kau melupakan aku, melupakan semua tentang ku, begitu mudahnya kau mengusir ku dari hatimu.
Telah banyak kata ku ungkap percuma, namun kau tak kunjung peka dengan perasaan ini.
Kau, kau biarkan aku terpuruk menanggung kesedihan ini sendirian, tanpa sedikitpun uluran tangan darimu, berkali-kali ku coba bangkit, berkali-kali pula aku terjatuh. Aku tak mampu berdiri sendiri .
kau tau aku sakit, kau tau aku terluka, tapi kau pura-pura bodoh , kau pura-pura tak tahu, kau tertawa di atas penderitaan ku.
Orang yang selama ini ku anggap baik, dewa pelindungku, ternyata lebih JAHAT dari seorang PENJAHAT.
Aku hanya bisa memandang mu dari jauh, tanpa berani mendekatimu.
Aku takut dikecewakan lagi, Hatiku sakitt . . .
Aku patut membenci dirimu!! Tapi hatiku seakan menolaknya, hati ku tak ingin ingin membenci mu! Tapi kau JAHAT!
Jadi, saat hatimu tak lagi untukku, kau bisa seenaknya mencampakkan aku? Meninggalkan aku?
Cinta, apa salahku? Hingga kau buat aku tersiksa seperti ini? Apa salahku?
Apakah aku salah terlalu mencintaimu? Apakah cinta ini terlarang?
Kau minta aku tuk melupakan mu, bagaimana mungkin aku bisa melupakan mu? Semua tentang kita? Hah?
Aku seperti sedang bermimpi buruk, saat ku tau kau tak lagi bersamaku, kau tak lagi mengisi hari-hariku.
Apa lagi yang harus ku lakukan? Aku ingin mempertahankan hubungan ini, tapi kau ingin segera mengakhirinya.
Jika aku tak mempunyai iman yang kuat, mungkin ku sudah mengikuti bujuk rayu setan.
Tapi, aku harus menerima kenyataan pahit ini, aku harus kuat, Bahwa kau sudah tak menginginkan ku lagi, kau sudah tak mencintaiku lagiii!
Aku lemah, aku terlalu lemah, aku tak bisa menerima kenyataan ini! Aku hanya bisa menangiss, dan menangiss!
Perih hati ini, tapi kau tak akan bisa merasakan nya, karna hatimu telah terkunci rapat! Hatimu tak lagi tersentuh dengan keadaan ku!
Aku kehilangan dirimu . . .
Senin, 07 Oktober 2013
Terlalu Cinta
Dulu, Cuma aku wanita idaman mu, kau selalu ajari aku, ingatkan aku agar cinta dan setia padamu.
Dulu, kau perkenalkan padaku tentang kesetiaan, seperti Lebah yang setia pada pasangannya.
Dulu, aku selalu menjadi yang nomor satu dalam hidupmu, dan aku selalu di utamakan.
Dulu, kau pernah bilang, akan menjadikan ku Hal terindah dalam hidupmu dan bukan menjadi kenangan yang terlupakan.
Dulu, kau pernah bilang bahwa akulah belahan jiwamu, kekasih hatimu.
Dulu, kau pernah bilang bahwa melupakanku adalah hal tersulit bagimu, tapi kau bohong.
Dulu, kau pernah berjanji selamanya mencintai ku seorang, tapi kau bohong.
Dulu, aku tidak Mencintaimu tapi kebersamaan kita membuatku sadar bahwa kaulah cinta pertamaku.
Tapi itu DULU, semua berubah ketika cintamu tak lagi untukku, Hatimu tak lagi untukku, kau usir aku dari hatimu, aku tak lagi berarti buatmu.
Mengapa? Mengapa cinta mu tak kuat kasih? mengapa kau mudah melupakan semua tentang ku?
Kata-katamu begitu manis, dan bodohnya aku begitu mudah mempercayainya.
Kasih, kau ajak aku bermimpi tentang indahnya masa depan.
Kau berikan aku rayuan kata-kata dan janji-janji manismu, hingga aku terjebak dalam permainan cintamu.
Tapi kini, semua janji mu tak lagi berarti, aku telah hilang dari hatimu.
Kasih, terlalu dalam cinta ini untukmu, kau masuk begitu dalam ke kehidupan ku, hingga ku tak rela melepasmu begitu saja, aku tak mampu melupakan semua kebersamaan kita.
Walaupun kau sering menyakitiku, Perasaan cinta ini tak pernah berkurang sedikitpun, ia seakan tak mampu beranjak pergi dari hatiku.
Kau tau kasih? Aku tersiksa dengan keadaan ini, cinta sepihak ini membuatku tersiksa, sakit, perihh..
Kasih, aku begitu mencintaimu, menyayangimu setulus hatiku. Aku tak ingin kau pergi, aku tak ingin kehilangan mu, tak ada lagi kata yang mampu ku katakan selain “aku mencintaimu “.
Dulu, kau perkenalkan padaku tentang kesetiaan, seperti Lebah yang setia pada pasangannya.
Dulu, aku selalu menjadi yang nomor satu dalam hidupmu, dan aku selalu di utamakan.
Dulu, kau pernah bilang, akan menjadikan ku Hal terindah dalam hidupmu dan bukan menjadi kenangan yang terlupakan.
Dulu, kau pernah bilang bahwa akulah belahan jiwamu, kekasih hatimu.
Dulu, kau pernah bilang bahwa melupakanku adalah hal tersulit bagimu, tapi kau bohong.
Dulu, kau pernah berjanji selamanya mencintai ku seorang, tapi kau bohong.
Dulu, aku tidak Mencintaimu tapi kebersamaan kita membuatku sadar bahwa kaulah cinta pertamaku.
Tapi itu DULU, semua berubah ketika cintamu tak lagi untukku, Hatimu tak lagi untukku, kau usir aku dari hatimu, aku tak lagi berarti buatmu.
Mengapa? Mengapa cinta mu tak kuat kasih? mengapa kau mudah melupakan semua tentang ku?
Kata-katamu begitu manis, dan bodohnya aku begitu mudah mempercayainya.
Kasih, kau ajak aku bermimpi tentang indahnya masa depan.
Kau berikan aku rayuan kata-kata dan janji-janji manismu, hingga aku terjebak dalam permainan cintamu.
Tapi kini, semua janji mu tak lagi berarti, aku telah hilang dari hatimu.
Kasih, terlalu dalam cinta ini untukmu, kau masuk begitu dalam ke kehidupan ku, hingga ku tak rela melepasmu begitu saja, aku tak mampu melupakan semua kebersamaan kita.
Walaupun kau sering menyakitiku, Perasaan cinta ini tak pernah berkurang sedikitpun, ia seakan tak mampu beranjak pergi dari hatiku.
Kau tau kasih? Aku tersiksa dengan keadaan ini, cinta sepihak ini membuatku tersiksa, sakit, perihh..
Kasih, aku begitu mencintaimu, menyayangimu setulus hatiku. Aku tak ingin kau pergi, aku tak ingin kehilangan mu, tak ada lagi kata yang mampu ku katakan selain “aku mencintaimu “.
Jumat, 04 Oktober 2013
Cinta Pertama
Waktu itu aq masih terlalu muda, aq bahkan tak mengerti apa itu Cinta, lalu kemudian kau hadir mengisi kekosongan hati ini, ku biarkan kau memberi warna dalam hidupku, kau mengajarkan aku tentang cinta dan kesetiaan, aq semakin merasa nyaman bersamamu, ku biarkan diriku memiliki rasa ini, aq bahkan tak menyadari bila rasa yang ku alami adalah cinta, semakin lama kita bersama membuatku yakin bahwa rasa ini adalah cinta. Ya, kau adalah cinta pertamaku.
Langganan:
Postingan (Atom)